Dalam dunia pemasaran dan psikologi warna, setiap rona memiliki kemampuan untuk membangkitkan emosi dan reaksi fisik tertentu. Namun, ada satu warna yang dianggap sebagai “anomali” dalam dunia kuliner, yaitu warna biru. Jika Anda perhatikan, jarang sekali kita menemukan restoran atau kemasan makanan yang menggunakan warna biru sebagai elemen dominan, kecuali untuk produk air mineral atau permen tertentu. Kasus unik muncul dalam tren bento berwarna biru yang sempat viral sebagai salah satu metode diet di Jepang. Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan besar: mengapa warna ini menjadi yang paling dihindari oleh para produsen makanan dan koki profesional di seluruh dunia?
Alasan mendasar mengapa warna biru menjadi yang paling dihindari dalam industri makanan berakar pada evolusi manusia. Secara historis, di alam liar, warna biru, ungu tua, atau hitam pada makanan sering kali merupakan tanda peringatan bahwa bahan tersebut mengandung racun atau sudah busuk. Berbeda dengan warna merah, kuning, atau hijau yang melambangkan buah matang dan sayuran segar, warna biru tidak memiliki padanan alami yang melimpah dalam sumber protein atau karbohidrat manusia purba. Akibatnya, otak kita mengembangkan insting untuk menekan nafsu makan saat melihat makanan, seperti bento berwarna biru, sebagai bentuk perlindungan diri agar tidak mengonsumsi sesuatu yang berbahaya.
Inilah sebabnya mengapa bento berwarna biru sering digunakan sebagai alat bantu diet. Penelitian menunjukkan bahwa makan dari piring berwarna biru atau melihat makanan yang diwarnai biru secara buatan dapat menurunkan keinginan untuk makan secara signifikan. Warna biru memiliki efek penenang yang justru mematikan gairah makan, berlawanan dengan warna merah yang memicu detak jantung dan rasa lapar. Karena fungsi utamanya adalah sebagai penekan nafsu makan, industri kuliner yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan dan konsumsi tentu menjadikan biru sebagai warna yang paling dihindari. Tidak ada pemilik restoran yang ingin pelanggannya merasa kehilangan selera makan tepat saat hidangan disajikan.
Selain faktor evolusi, aspek estetika juga memainkan peran penting. Sebagian besar makanan yang kita konsumsi memiliki warna dasar hangat, seperti cokelat daging panggang, kuning keemasan roti, atau merah saus tomat. Ketika warna-warna ini dipadukan dengan cahaya biru atau disajikan dalam wadah seperti bento berwarna biru, tampilan makanan tersebut akan terlihat kusam dan tidak segar secara visual. Warna biru menyerap spektrum warna hangat dari makanan, membuatnya tampak tidak menarik dan bahkan menjijikkan bagi sebagian orang. Hal ini memperkuat alasan mengapa dalam desain interior restoran, penggunaan lampu biru adalah hal yang paling dihindari karena dapat mengubah persepsi kualitas makanan.
